Di postingan kedua telah aku gambarkan jepang dengan gagak, tapi itu
semua kebanyakan dari segi negatifnya, atau bahkan gambaran yang
kuberikan terlalu ekstrim. Sekarang aku akan menulis Si gagak dari
hal-hal positif yang aku pelajari.Di postingan 'Langit Senja di Negri Sakura' aku telah menjelaskan bahwasannya kehidupan orang jepang sangat membosankan karena sepanjang umur mereka mereka gunakan untuk bekerja, kurasa aku salah. Ketika aku telah merasakan menjadi pekerja di Hamada Tekkin, nama perusahaanku, aku begitu merasakan aroma kekeluargaan yang kental, saling menghibur dan menghargai tanpa memperdulikan perbedaan-berbedaan yang begitu banyak. Aku sungguh bersyukur bisa berada disini. mungkin banyak orang berpikir kerja di genba(kerja lapangan) itu berat. ya.... memang benar, tapi semua tidak akan kita rasakan keletihan dan kesusahan itu kalau kita bisa mencintai apa yang kita kerjakan. Dan itulah yang alhamdulillah sedang aku rasakan sekarang. Pantas saja orang jepang tak merasa letih atau bosan bekerja sepanjang umur mereka.
Sonoda san, Iyono san, Hamadha san, Yamamoto san, Hamadha Seichiro san(koujhochou), Hamada Masafumi san (senmu). merekalah yag akan menemani dan menjadi saksi akan perjuanganku dalam 3 tahun(insyaAllah) di negri sakura ini,. Baru sekitar satu minggu lebih tapi kenyamanan sudah sangat kurasakan. Sorang pegawai hampir setiap hari di belikan eskrim dan jus?! sugooiii,.. sebagai balasannya InsyaAllah aku akan bersemangat bekerja terus dalam 3 tahun dimulai dari sekarang. ^-~
Di postingan '"JAPAN"
Jasad tanpa Jiwa' aku telah menggambarkan sisi negatif dari sang gagak,
setelah aku fikir sepertinya mereka jauh lebih baik dari kebanyakan
kita. Mereka melakukan hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan mereka dan
tidak melanggar norma-norma yang berlaku bagi mereka. Mabuk ataupun main
wanita selalu mereka lakukan sesuai hukum ataupun norma yang berlaku
tanpa mengganggu kepentingan orang lain sedikitpun. Itulah kenapa gagak
hitam tak malu menunjukkan dirinya di siang hari, atau malah sepanjang
hari, karena kehitaman pekatnya melambangkan kejelekan bagi mereka tapi
mereka bisa percaya diri dan tanpa rasa malu, karena memang itulah norma
dan kebiasaan mereka. Ber beda dengan kita. Sepertinya kita adalah Si
Tikus Hitam. Memang ukuran kita lebih kecil dari gagak. Tapi apa yang
Tikus Hitam lakukan? Mencuri-curi barang-barang orang lain yang bukan
menjadi haknya, tak perduli akan kepentingan orang lain asal perut
sendiri kenyang. Itulah kenapa korupsi juga dilambangkan Tikus
Hitam(argumen saya). Bersembunyi dalam kegelapan lorong-lorong got kecil
dan melakukan keburukan yang sangat berlawanan dari noram-norma yang
ada, bahkan tak memperdulikan agama. Rela memakan bangkai temannya, tak
perduli siapa mereka asal saya bisa kaya dan di pandang orang. Sesuatu
yang jelas-jelas melanggar hukum tapi sudah dianggap biasa. KKN pun
menjadi makanan sehari-hari. Padahal jelas-jelas ketahuan bersalah,
entah itu karena korupsi atau kejahatan lain tapi bukan merasa malu,
orang jepang melakukan harakiri(bunuh diri dengan pedang) karena malu
akan kesalahan mereka, berbeda dengan kita yang jelas-jelas salah bukan
malu ataupun melakukan harakiri, malah menuduh dan bahkan membunuh orang
lain.Hina mana antara gagak hitam dan tikus hitam??
Ya,.. memang begitulah dunia, tak ada yang abadi ataupun sempurna. Jepang si gagak hitam dengan segala hal positif ataupun negatifnya, dan kita si tikus hitam dan saya belum menyebutkan hal positifnya,.. hehehe,.. doumo sumimasen,..
Tunggu di postingan berikutnya,.. hehehe...
Dan terakhir.. Sepertinya suasana sepiritualku ikut hanyut dalam kehidupan disini. Teratur,bersih,serba ada
dan menyenangkan,.. sekali lagi dunia mengalahkanku!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar